
Banyak yang mengatakan kalau musik Indonesia, khususnya pop sedang mengalami stagnansi, Banyak bermunculan grup yang membuat musik-musik “tidak bertanggung jawab”. Kenapa band-band itu-itu saja yang mampu merajai papan atas musik Indonesia? Apa memang selera music orang Indonesia yang sedang mengalami degradasi? Atau label mayor yang semakin tidak peduli dengan kualitas musik, selama itu pop, bertemakan cinta dan catchy maka pasti menjual? Entahlah, faktanya adalah label-label independen lebih mampu menelurkan band-band berkualitas dibanding label mayor.
Untungnya muncul band macam Efek Rumah Kaca, band pop asal Jakarta rilisan Pavilliun Record. Secara musik tidak ada yang baru dari debut album ini, namun lirik dan topik yang diangkat di daam lagu-lagunya sangat segar sehingga musiknya yang minimalis jadi terasa sangat berbobot. Jauh, saya garis bawahi lagi, JAUH, lebih berbobot ketimbang band-band yang saat ini sedang menjual ratusan ribuan kopi. Mendengar band ini membuat saya menghelakan nafas lega. Akhirnya. Kalau orang barat berkata, “there is a light at the end of the tunnel” (akan ada secercah cahaya di ujung lorong)
Band ini lebih mengingatkan saya pada band Indonesia beberapa tahun lalu bernama Kaimsasikun yang pernah muncul dengan lagu “Pria Dijajah Wanita”. Warna vokal Efek Rumah Kaca (ERK) cukup sedikit mengingatkan saya pada Kaimsasikun. Nomor-nomor yang patut disimak dengan seksama ada di “Jatuh Cinta itu Biasa Saja”, “Bukan Lawan Jenis”, “Debu-Debu Berterbangan”, “Melankolia”, “Desember”, dan dua lagu favorit saya secara personal: “Sebelah Mata”, dan “Di Udara”.




